Writing Of Pipit

Rabu, 27 Agustus 2014

Loncat ke masa depan???




Kalau sedang lelah badan, pikiran apalagi. Saya rasanya ingin pergi jauh-jauh dari kehidupan yang saya jalani sekarang. Atau minimal pergi liburan dan menyepi dulu dari sini. Tapi saya buru-buru istighfar, mungkin saya memang yang terlalu labil dan suka egois sama orang-orang di sekeliling saya.

Dan ketika saya iseng buka laptop niatnya mau ngerjain power point untuk bahan ujian nanti, eh malah nemu foto diatas. Bukan gambarnya yang penting, tapi momentnya. Iya, saya pengen balik  lagi kesana. Menaiki semua wahana ekstrimnya berulang-ulang kali (lagi). Setidaknya sensasinya membuat saya lupa masalah apapun yang terus mencekik saya.

Naik giant swing, racing coaster, vertigo, jelajah, negeri raksasa dan lain-lain mungkin cocok dengan keadaan saya sekarang. Searasa hampir hilang kesadaran dan saya bisa tertawa dan menjerit sesuka saya.

Ya Allah, andai bisa loncat ke masa depan saya ingin melakukannya sekarang juga.

Senin, 25 Agustus 2014

This city

Hari ini belom kelar menyelesaikan segala urusan kuliah. Pulang sore nungguin dosen PA saya tapi tak kunjung datang. Lalu Naik busway sepulang dari kampus niatnya ingin cepat sampai agar bisa segera istirahat, in fact ketika sampai di transit sudah gak ada busway untuk jurusan pulang ke rumah uwak. Saya sungguh lelah sekali hari ini. Hampir seharian mondar mandir di kampus, bolak-balik, celingak-celinguk, panas dan dahaga karena sedang berpuasa. oh Masya Allah.

Dan saya juga tiba-tiba ditemui orang-orang yang gak kenal tapi sok tahu. Kejadian yang agak bikin gondok dan pingin lari sejauhnya dari sana, tapi cukup menghibur juga. Haha

Inilah yang saya malaskan ketika disini, jarak yang jauh membuat semua terasa berat. Bukan saya manja atau gak biasa susah. Itu sudah biasa,. Yang saya khawatirkan adalah sepinya disini. Suasananya ramai, tapi ada sesuatu yang sepi. Disini! (Nunjuk hati) :)

Ah jangan lelah berjuang pit. Ini jalan yang harus dilalui, lewati, hadapi! :)

Rabu, 20 Agustus 2014

call it traveling!



Lima hari yang lalu saya baru pulang dari kota Bandung, A little of the longest trip in my life. Ini perjalanan pertama saya yang dari dulu saya angankan dan terwujud lewat kegiatan PPL kampus. Perjalanan yang melelahkan karena hampir setegah perjalanannya berada di dalam kubus berjalan yang membuat pengguna jalan yang lain harus mepet-mepet karena gedenya bus pariwisata kami.

Dari Jakarta, Yogyakarta dan berakhir di Bandung lalu pulang kembali ke Palembang. Bisa dibayangkan seminggu perjalanan darat yang cukup membuat pinggang encok dan kulit wajah mengering karena perawatan ga sempurna selama berpergian kemarin.

Saya paham kalau ikut program begini ya harus ikut rule nya si pembuat acara. Bukan seperti perjalanan pribadi yang sebebasnya mau jalan kemana, mau makan apa, ketemu siapa saja dan bisa lama-lama di tempat yang kita suka. Tapi walaupun terbatas saya mencoba just enjoy the journey, be happier. Karena setelah ini banyak yang menunggu untuk dikerjakan, banyak hal yang harus segera dituntaskan. Dan sayapun agak sangsi kalau semuanya bisa sesuai dengan "mau" saya.

Alhamdulillah perjalanan singkat itu badan saya bisa berkompromi dan ga mabuk sama sekali dari berangkat hingga pulang, dan jika semua tubuh terasa pegal itu semua hal yang wajar dan dimaklumi jika sehabis melakukan perjalanan jauh.

Waktu yang singkat ini cukup membuat saya ketagihan ingin pergi lagi(karena dari dulu saya ingin sekali jadi traveler). Kalau Pulau Jawa baru sampai Yogya, mudah-mudahan nanti bisa menyeberang pulau lagi ke Bali, Kalimantan, Sulawesi bahkan sampai ke Raja Ampat nun jauh di ujung sana. Saya juga ingin mengelilingi pulau saya sumatera sampai ke ujungnya si Aceh. Haha (What a big dream!)

Banyak cerita lain yang masih tersimpan dalam benak saya. Tapi tunggu ya mungkin di posting lain, saya harus ngerjain laporan dulu dan juga menyelesaikan proposal saya yang harus segera di ujikan. doakan saya ya. 

Apapun yang sudah saya alami kemarin, senangnya, susahnya, I just call it travelling.
See ya :)

Selasa, 19 Agustus 2014

Wahai hidup


Wahai anakku, latihlah diri kalian untuk selalu bertopang pada diri sendiri dan Allah. I’timad ala nafsi, artinya mandiri bertumpu pada diri sendiri. Segala hal dalam hidup ini tidak abadi, semua akan pergi silih berganti. Kesusahan akan pergi. Kesenangan akan hilang. Akhirnya hanya tinggal urusan kalian sendiri dengan Allah saja nanti”

Pesan Kiai Rais kepada Alif di novel “Ranah tiga warna” yang saya kutip diatas merupakan sebuah kata-kata yang menikam dan juga memberikan semangat ketika saya di hadapi banyak trouble dalam hidup saya akhir-akhir ini.

Saya ga tahu ini bentuk ujian apa lagi yang dihantamkan Allah kepada saya sekarang. Apapun itu bentuknya saya berusaha menghadapi dan mencoba ga pernah menyerah dan loyo gara-gara pahitnya semua ini.

Selembar kertas bolak-balik atau bahkan satu buku sampai habispun mungkin ga akan cukup untuk menuliskan daftar keluhan saya. Hanya saja bukan keluhan yang penting dalam hidup ini, karena syukur yang terpenting dalam kehidupan agar hati tenteram dan menyadari Kasih Sayang Allah dan JanjiNya akan member kemudahan setelah kesusahan.

Saya sedang berpikir, menunggu waktu yang tepat, menyiapkan hal-hal yang harus saya lakukan apalagi setelah ini.

Ketika sampai pada titik ini saya harus sedemikian dewasa menghadapi semuanya, saya hanya bisa terus menenteramkan diri dan mengerjakan apapun yang bermanfaat agar fokus terbelah tidak memikirkan yang menyakitkan hati saya. Setiap sujud dan d0a-doa adalah satu-satunya muara tempat saya berkeluh kesah.LAgipula hidup bukan untuk disusahkan, tapi dijalani dan dihadapi semua tantangannya.

Allah Maha Adil. Allah Maha mengerti. Allah maha Pengasih. Semoga Allah memudahkan jalan hidup saya. Semoga Allah memberikan jalan keluar dan menjadikan saya makhluk yang sabar. Amin.

Wahai hidup berdamailah dengan ku.