Writing Of Pipit

Rabu, 17 September 2014

'Till the End

Saya sedang berjalan menuju tujuan itu. Seberat apapun medannya, sesering apapun keluhan saya, saya harus sampai di akhir itu.

Tak ada yang mudah dalam hidup ini kan? Exactly!

Dan saya harus melawan rasa malas dan perasaan cengeng ini ketika otak saya berontak berhenti hanya sekedar untuk bersantai, mata saya sok lelah menatap layar dan membaca semuanya. Jemari ini mulai menjamah benda lain yang hanya sekedar hiburan tak berguna. Badan ini pun kadang lelah sekali untuk ditempa beberapa jam saja dalam sehari untuk menyelesaikan research ini!

Ini sudah akhir September! Walaupun sistem kampus belum mendukung. Geraknya masih lamban karena harus mengurus ribuan mahasiswa lainnya yang berkepentingan juga. Maka mahasiswaa akhir seperti saya ini harus sabar menunggu sampai nama dosen Pembimbing skripsi saya keluar, just SABAR. Padahal, saya ingin bertanya, ingin sharing, ingin belajar, tentang tulisan ini, reasearch ini yang sudah bikin saya ga tenang berbulan-bulan sepanjang tahun ini.

Oh Ya Allah.. Tuntun saya hingga saya menyelesaikan semua. Till the end.

Rabu, 27 Agustus 2014

Loncat ke masa depan???




Kalau sedang lelah badan, pikiran apalagi. Saya rasanya ingin pergi jauh-jauh dari kehidupan yang saya jalani sekarang. Atau minimal pergi liburan dan menyepi dulu dari sini. Tapi saya buru-buru istighfar, mungkin saya memang yang terlalu labil dan suka egois sama orang-orang di sekeliling saya.

Dan ketika saya iseng buka laptop niatnya mau ngerjain power point untuk bahan ujian nanti, eh malah nemu foto diatas. Bukan gambarnya yang penting, tapi momentnya. Iya, saya pengen balik  lagi kesana. Menaiki semua wahana ekstrimnya berulang-ulang kali (lagi). Setidaknya sensasinya membuat saya lupa masalah apapun yang terus mencekik saya.

Naik giant swing, racing coaster, vertigo, jelajah, negeri raksasa dan lain-lain mungkin cocok dengan keadaan saya sekarang. Searasa hampir hilang kesadaran dan saya bisa tertawa dan menjerit sesuka saya.

Ya Allah, andai bisa loncat ke masa depan saya ingin melakukannya sekarang juga.

Senin, 25 Agustus 2014

This city

Hari ini belom kelar menyelesaikan segala urusan kuliah. Pulang sore nungguin dosen PA saya tapi tak kunjung datang. Lalu Naik busway sepulang dari kampus niatnya ingin cepat sampai agar bisa segera istirahat, in fact ketika sampai di transit sudah gak ada busway untuk jurusan pulang ke rumah uwak. Saya sungguh lelah sekali hari ini. Hampir seharian mondar mandir di kampus, bolak-balik, celingak-celinguk, panas dan dahaga karena sedang berpuasa. oh Masya Allah.

Dan saya juga tiba-tiba ditemui orang-orang yang gak kenal tapi sok tahu. Kejadian yang agak bikin gondok dan pingin lari sejauhnya dari sana, tapi cukup menghibur juga. Haha

Inilah yang saya malaskan ketika disini, jarak yang jauh membuat semua terasa berat. Bukan saya manja atau gak biasa susah. Itu sudah biasa,. Yang saya khawatirkan adalah sepinya disini. Suasananya ramai, tapi ada sesuatu yang sepi. Disini! (Nunjuk hati) :)

Ah jangan lelah berjuang pit. Ini jalan yang harus dilalui, lewati, hadapi! :)

Rabu, 20 Agustus 2014

call it traveling!



Lima hari yang lalu saya baru pulang dari kota Bandung, A little of the longest trip in my life. Ini perjalanan pertama saya yang dari dulu saya angankan dan terwujud lewat kegiatan PPL kampus. Perjalanan yang melelahkan karena hampir setegah perjalanannya berada di dalam kubus berjalan yang membuat pengguna jalan yang lain harus mepet-mepet karena gedenya bus pariwisata kami.

Dari Jakarta, Yogyakarta dan berakhir di Bandung lalu pulang kembali ke Palembang. Bisa dibayangkan seminggu perjalanan darat yang cukup membuat pinggang encok dan kulit wajah mengering karena perawatan ga sempurna selama berpergian kemarin.

Saya paham kalau ikut program begini ya harus ikut rule nya si pembuat acara. Bukan seperti perjalanan pribadi yang sebebasnya mau jalan kemana, mau makan apa, ketemu siapa saja dan bisa lama-lama di tempat yang kita suka. Tapi walaupun terbatas saya mencoba just enjoy the journey, be happier. Karena setelah ini banyak yang menunggu untuk dikerjakan, banyak hal yang harus segera dituntaskan. Dan sayapun agak sangsi kalau semuanya bisa sesuai dengan "mau" saya.

Alhamdulillah perjalanan singkat itu badan saya bisa berkompromi dan ga mabuk sama sekali dari berangkat hingga pulang, dan jika semua tubuh terasa pegal itu semua hal yang wajar dan dimaklumi jika sehabis melakukan perjalanan jauh.

Waktu yang singkat ini cukup membuat saya ketagihan ingin pergi lagi(karena dari dulu saya ingin sekali jadi traveler). Kalau Pulau Jawa baru sampai Yogya, mudah-mudahan nanti bisa menyeberang pulau lagi ke Bali, Kalimantan, Sulawesi bahkan sampai ke Raja Ampat nun jauh di ujung sana. Saya juga ingin mengelilingi pulau saya sumatera sampai ke ujungnya si Aceh. Haha (What a big dream!)

Banyak cerita lain yang masih tersimpan dalam benak saya. Tapi tunggu ya mungkin di posting lain, saya harus ngerjain laporan dulu dan juga menyelesaikan proposal saya yang harus segera di ujikan. doakan saya ya. 

Apapun yang sudah saya alami kemarin, senangnya, susahnya, I just call it travelling.
See ya :)

Selasa, 19 Agustus 2014

Wahai hidup


Wahai anakku, latihlah diri kalian untuk selalu bertopang pada diri sendiri dan Allah. I’timad ala nafsi, artinya mandiri bertumpu pada diri sendiri. Segala hal dalam hidup ini tidak abadi, semua akan pergi silih berganti. Kesusahan akan pergi. Kesenangan akan hilang. Akhirnya hanya tinggal urusan kalian sendiri dengan Allah saja nanti”

Pesan Kiai Rais kepada Alif di novel “Ranah tiga warna” yang saya kutip diatas merupakan sebuah kata-kata yang menikam dan juga memberikan semangat ketika saya di hadapi banyak trouble dalam hidup saya akhir-akhir ini.

Saya ga tahu ini bentuk ujian apa lagi yang dihantamkan Allah kepada saya sekarang. Apapun itu bentuknya saya berusaha menghadapi dan mencoba ga pernah menyerah dan loyo gara-gara pahitnya semua ini.

Selembar kertas bolak-balik atau bahkan satu buku sampai habispun mungkin ga akan cukup untuk menuliskan daftar keluhan saya. Hanya saja bukan keluhan yang penting dalam hidup ini, karena syukur yang terpenting dalam kehidupan agar hati tenteram dan menyadari Kasih Sayang Allah dan JanjiNya akan member kemudahan setelah kesusahan.

Saya sedang berpikir, menunggu waktu yang tepat, menyiapkan hal-hal yang harus saya lakukan apalagi setelah ini.

Ketika sampai pada titik ini saya harus sedemikian dewasa menghadapi semuanya, saya hanya bisa terus menenteramkan diri dan mengerjakan apapun yang bermanfaat agar fokus terbelah tidak memikirkan yang menyakitkan hati saya. Setiap sujud dan d0a-doa adalah satu-satunya muara tempat saya berkeluh kesah.LAgipula hidup bukan untuk disusahkan, tapi dijalani dan dihadapi semua tantangannya.

Allah Maha Adil. Allah Maha mengerti. Allah maha Pengasih. Semoga Allah memudahkan jalan hidup saya. Semoga Allah memberikan jalan keluar dan menjadikan saya makhluk yang sabar. Amin.

Wahai hidup berdamailah dengan ku.

Minggu, 27 Juli 2014

Happy Eid Mubarak World



Allahu akbar. Allahu akbar. Allahu akbar walillahilhamd’.

Gema takbir Ied begitu menyeruak di kota ini dari semalam hingga tadi pagi ketika saya melangkah menuju masjid di dekat rumah untuk melaksanakan Shalat Ied.

Haru dan bahagia tak pernah luput di hati ini merasakan hangatnya hari yang fitri. Dalam hati saya juga terus menyenandungkan takbir yang sama mengingat momentum setahun sekali yang begitu special dibuat Allah ini.

Ketika sampai rumah, seperti biasa ritual saling bersalaman dan memohon maaf dengan keluarga di rumah dan dilanjutkan makan bersama. Ya, saya sungguh bahagia hari ini dengan segala situasi dan keadaannya.

Namun tetap saja ada yang mengganjal hati disaat-saat sekarang, mikirin ini, ini, dan itu, dan ada hal-hal lain yang membuat saya susah tidur dan terlalu berpikir kesana.

Oh Ya Rabb, Sungguh saya tak ingin merusak suasana Idul Fitri yang menenangkan dan menyenangkan ini rusak karena pikiran-pikiran saya di masa depan. Saya harus bersyukur, untuk setiap nafas, setiap kesempatan dan setiap apa yang saya alami selama ini.

Sekarang ayah dan Ibu sudah sibuk manggil-manggil saya keluar dari kamar karena beberapa tetangga dan teman sudah datang silaturahim ke rumah, saya masih sibuk main laptop di kamar. Bukan waktunya untuk duduk di depan monitor pagi-pagi begini dan bertengger di blog.

So, Happy Eid Mubarak World!!! :)

Sabtu, 19 Juli 2014

Ramadhan, Ied, Proposal!



Hari ini sudah tanggal dua puluh satu ramadhan, dan di rumah sudah mulai sibuk menyiapkan kue-kue enak, sudah ada kehebohan baju lebaran, rencana sholat ied dimana, mengurus daftar masakan-masakan yang harus disediakan oleh ibu di lebaran nanti, saudara-saudara dan keponakan mulai berkumpul dan sebagainya dan sebagainya.
Saya, agak sedih namun bahagia juga. Ramadhan akan segera berakhir, tapi Idul fitri juga merupakan hari yang paling menyenangkan.
Idul Fitri  itu, selalu bikin saya ingin kembali pulang  padahal memang saya sedang di rumah. 
Idul Fitri itu, bikin saya “rindu” walaupun nggak tau sama siapa. 
Idul Fitri  itu amazing, segalanya.
Tapi hari ini, ramadhan yang mendekati idul fitri ini, rasanya ada yang mengganjal hati.
the most worst thing now is that, I had a bunch worries of proposal skripsi dan skripsi yang nggak ada matinya. dan ini menguras semuanya.
And I don’t know why I’m crying. listening to murrotal of Qur’an, missing the “takbir Eid” moment so bad, even it’s only a week to go. A week to go. and I haven’t found any Eid feeling
Tapi ini gak akan merusak kebahagiaan saya menyambut Idul Fitri nanti, juga gak akan membuat saya menyia-nyiakan kesempatan ibadah di bulan baik ini.
Dear My Rabb, please always tell me, “it’s never too late to have the 'Ramadhan and Eid's spirit in your heart.”


Selasa, 01 Juli 2014

Alhamdulillah :)



Alhamdulillah. Syukur tak terbatas bisa menikmati “Ramadhan karim” yang penuh berkah di tahun ini. Meskipun di awal ramadhan saya sudah kedatangan tamu tak diundang sehingga belum bisa menjalankan ibadah tahunan ini, tapi antusiasme saya tetap tinggi untuk bisa mengambil momen supaya bisa menjadi manusia yang lebih baik, dan lebih baik lagi tahun ini.

Biasanya di tahun-tahun lalu bulan puasa pasti bertepatan libur semester. Namun kali ini sedikit berbeda, libur semester bukanlah arti libur yang sesungguhnya. Karena deadline proposal skripsi(Bab 1), pesantren metodologi, ujian proposal dan ujian kompre menunggu saya terhitung sepanjang  bulan ini hingga bertepatan selesai dua-tiga hari sebelum lebaran nanti. Its mean, saya harus bolak-balik Prabumulih-Palembang untuk melakukan itu semua dan benar-benar menjaga kesehatan biar ibadah lancar, kuliah juga lancar. 

Saya sering bikin wish list dalam waktu-waktu sekarang, semoga ini, semoga itu, dan sebagainya dan sebagainya, tapi itulah yang kadang bikin saya semangat menjalaninya. Dan saya tahu bahwa semua itu hanya bisa dicapai jika saya memulai langkah saat ini juga untuk semakin dekat dengan tujuan-tujuan saya.

Time is money adalah pepatah lama yang dulu sering saya dengung-dengungkan ketika kecil. Tapi semakin saya dewasa seperti sekarang, mungkin interpretasi maknanya lebih dalam dari itu dan bisa dihubungkan dengan banyak hal. Iya, saya jadi ingat film” in time”.  Ketika waktu adalah harga mati yang harus dimiliki setiap orang untuk bertahan hidup, membeli apa saja, membeli kehidupan. Walaupun saya bilang film itu agak berlebihan soal peran waktu. Namun yang disampaikannya cukup membuat saya mengerti bahwa memang tak ada gunanya menyia-nyiakan waktu.

Sekarang waktu-waktu berharga sedang dating dalam kehidupan saya, bulan berkah, kesempatan untuk menyelesaikan kuliah, berkumpul dengan keluarga tercinta dan segala yang menyenangkan hati saya. Waktu yang saya syukuri karena saya masih bisa menulis di blog ini barang setengah jam. Don’t waste a time, iya saya  harus menggunakan waktu untuk lanjut ngerjain proposal lagi setelah ini, karena saya harus bimbingan ke PA beberapa hari lagi.

See ya my blogSelamat berpuasa!!!! :)