Ketika Ibu menawarkan untuk mengajak pipit pergi kondangan ke tempat salah satu keluarga dekat ( Tepatnya Mamang <Bahasa SUMSEL> = Paman <Bhs Indonesia>) ayah hari ini, awalnya saya enggan untuk ikut. Saya pikir pasti banyak sekali saudara-saudara ayah baik itu sepupu dan kerabat lainnya. Tapi saya pikir-pikir lagi apa salahnya karena memang saya jarang bahkan bisa dikatakan tidak pernah keluar selama libur dari tanggal sebelas kemarin.
Dan seperti hajatan walimatul ursyi alias pernikahan lainnya, tentu acaranya tidak beda jauh seperti kebanyakan. Jujur saya paling suka dan memfavoritkan bagian ceramah pernikahannya. Tidak tahu kenapa(mungkin faktor umur yang udah masuk kepala 2 juga. hehe) semenjak kuliah yang dikelilingi lingkungan yang agamis membuat saya seperti haus akan wejangan atau nasehat yang seperti itu.
Padahal isi ceramahnya mempunyai "one purpose" dengan penda'i lainnya. Namun menurut saya, selalu punya warna tersendiri dari setiap penyampai dakwah tersebut asal kita selalu bisa menarik sisi positif dari apa yang mereka sampaikan.
Saya jadi tiba-tiba teringat masa PLIK (Pendidikan Latihan Ibadah Kemasyarakatan)-salah satu syarat pengajuan skripsi nanti- yang baru saja saya ambil semester lima yang lalu. Masa-masa yang penuh pasang-surut semangat antara kemauan mengikutinya hingga selesai dengan manfaat yang sungguh besar jika saya dan teman-teman lainnya secara bersungguh-sungguh dengan proses PLIK itu sendiri. Dan singkatnya, semuanya selesai dengan baik dan saya rindu ingin mengulang momen kemarin. :')
I'm Seriously. Walaupun sepanjang sejarah selama PLIK saya selalu datang telat. Sungguh saya gak pernah bosan dan sangat antusias ketika para dosen menyampaikan materi-materi mereka. Saya yang masih suka "rock and roll" gini, seringkali bilang "something new nih" ketika dosen menjabarkan sebuah dalil atau mendongengkan kisah para sahabat pada jamannya. Saya yang saat itu merasa bahwa banyak sekali yang belum saya tahu, banyak sekali sesuatu yang ga saya mengerti, perlahan saya peroleh disini (My Beloved Kampus). I'm so Happy and proud of it, How Lucky I am? :)
Sungguh, kalau kita sudah menganggap nasihat, ceramah, atau apapun sebutannya sebagai sebuah asupan yang bisa memberi asupan dan energi positif untuk diri kita. Semuanya ibarat matahari yang terbit di pagi hari yang memberi kehangatan bumi dan seisinya, dan untuk manusia semua advices baik yang ada bisa menjadikan diri ini untuk terus lebih baik tentunya. :)
So, Kenapa saya nulis ini? Kesimpulannya simpel, (saya menjadikan diri saya sendiri yang jadi objeknya. :) hehe) Bahwa Manusia memang butuh cahaya, sinar, atau apapun itu layaknya sebuah matahari misalnya. Matahari yang memancarkan sinar dan kehangatannya di Bumi, menemani penjelajahan para manusia mencari kebenaran di muka bumi ini dalam menemukan semua nilai yang mereka cari untuk melengkapkan dan menyempurnakan hidupnya.
Sebenarnya banyak matahari dan sumber cahaya di dunia ini yang bisa kita cari agar hidup kita lebih cerah nan terang selain yang saya gambarkan dari tulisan ini seperti halnya mendengar ceramah, sungguh masih banyak yang lainnya, dzikrullah, sedeqah, dll yang banyak sekali selagi kita mau mencari dan mengkajinya. :)
Segitu dulu ya, Selamat Malam :)
Prabumulih, 19 Januari 2013.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar