Writing Of Pipit

Sabtu, 12 April 2014

Hai Calon Masa Depanku :)




Hai Calon Masa Depanku!!!

Jika kau bertanya padaku apa yang kurasakan saat ini?. Aku tak tahu. Tak berani menyimpulkan, tak berani memastikan. Takut salah dan hanya meneguk kecewa jika kenyataannya nanti semua bisa berubah diluar prediksiku, karena sepucuk perasaan ini hanya sebuah titipan. Sang Pengaturlah yang berhak membolak-baliknya, menentukan jalan ceritaNya.

Entahlah. Mungkin ini egois namanya. Tapi satu hal yang harus disadari, akan banyak jutaan detik yang akan dilewati kedepannya dengan ragam ujian dan tantangan yang akan ku taklukan untuk mengejar cita-citaku, impiku. Misi hidupku masih banyak yang harus ku tuntaskan dan ku tunaikan, sebut saja aku ambisius ~terserah saja.

Mungkin juga di waktu ke depan Tuhan akan menghadirkan sosok-sosok lain di tiap hariku tapi bukan dirimu, Who knows. Tak ada yang tahu kan. Jika memang segala yang dirasa hati ini benar, maka semua “yang akan dan sudah” kita lewati anggaplah sebagai pengujinya apakah memang itu semu atau benar-benar hakiki.

Sini, mari kita berkompromi dulu dengan kehidupan kita sekarang. Segala sesuatu itu perlu diniatkan, disiapkan, Agama kita begitu banyak memberi pedoman hidup yang baik untuk segala umatnya. Dan ayo, kita wajib menggunakannya untuk kebaikan kehidupan kita semua. Landaskan ajaranNya yang benar didalam hati dan implementasikan sebisa mungkin dalam tiap lembaran hidup kita.

Heiii.. lihatlah dunia. Usia kita ini masih amat produktif untuk bekarya dan mewujudkan segala impian yang pernah kita tulis atau ucap ketika kita kecil dulu. Selagi ada waktu, mari kita selesaikan semuanya. Lakukan secara total, agar hasil yang didapatpun maksimal. Bersibuklah dahulu dengan “mimpi-mimpi” yang pernah kau ciptakan. Lalu setelah semua selesai kau raih meski ada yang berhasil atau tidak-yang memang begitulah seni kehidupan, maka bergegaslah sentuh klimaks mimpimu yang lain, yang sejati, yang menjadi muara dari hidupmu dan menghabiskan sisa waktu untuk terus bermanfaat dan melewati hari bersama, dengannya.

Aku makin menyadari bahwa hidup ini adalah proses mencari dan membekali diri. Kamu tahu, ada satu lagi mimpi klimaks-ku seperti orang kebanyakan, sebuah sunnah rasul dan merupakan ibadah terindah yang Allah perintahkan dan khususkan untuk manusia di bumi ini. Ya, salah satu mimpi akhirku setelah sekian banyak cita-cita lain : Berkeluarga

Tidak salah bukan? Bahkan itu sangat manusiawi dan kodrat bagi setiap manusia. Tapi, tentu banyak proses dan beberapa faktor pendukung lain untuk melakukannya yang memang tidak sembarangan. Aku ingin menikah menjadi tujuan melengkapi agama, sekali lagi menjalankan sunnah Rasul dan menjaga pandangan, semoga alasanmu pun sama denganku. Harapan besarku bisa memperoleh suami yang menjadikanku sebagai bagian dari amanah yang akan ia pikul, menyayangi, memberikan nafkah, memberi pendidikan, bertanggungjawab untuk meluruskan tiap keteledoran, saling mengingatkan di kala kesusahan, berjalan bersama menuju ridhaNya.

Lelaki yang mengimamiku di shalat-shalatku dengan lembut suaranya, menenteramkan hatiku dengan tilawahnya. Yang saat shalat telah selesai dan salam mengakhiri, kala itu pula kupandangi punggungnya yang tak henti bekerja untuk menghidupiku, mengemban amanah menjaga keluarga ini. Punggung yang tak pernah merasa lelah dan mengambil rehat kecuali jika ia sakit karena tahu tanggung jawabnya terhadapku. Dan setiap waktu, ahh semakin ku menyayanginya.

Lelaki yang tak perlulah memiliki Alphard tiga, apartemen tersebar di berbagai kota, atau nama besar keluarga di belakangnya. Cukup hanya ia yang dengan tulus senyum bekerja tanpa keluh, tanpa mesti kusuruh, yang bersedia turut membantu mengusap peluh di keningku ketika ku lelah mengurus rumah dan keluarga kami tercinta, dan atas semua itu ia hanya akan merasa kian mencintaiku, wanitanya, atas segala ujian yang telah dan kan kita lewati begitu keras dan susahnya. Menjadikan pernikahan dan rumah tangga yang kita bangun sebagai tempat cinta yang ditanam di dunia untuk kita tuai bahagia di surga sebenarnya. Itu aku dan kamu: jodohku nanti.

Aku selalu merangkai dan mengimpikannya dalam doa-doa syahdu di setiap sujudku meski kadang terlintas banyak ragu, akankah seindah itu?

Lalu jika ada yang bertanya pula padaku siapakah sosok dalam bayangan yang ku cipta itu? Lagi-lagi aku tak tahu dan hanya mampu menggeleng, semua masih abu-abu, buram, blur. Maka itu tak perlu banyak kata, hanya ingin bila telah sampai waktunya, kutunggu ijabnya saja.

Tapi kini, entah di mana kamu, siapa kamu dan apa yang kamu lakukan. Aku hanya bisa menanti dan berdoa. Kau masih tak terteka dalam jarak dan waktu, mungkin telah atau sedang belajar memperbaiki diri seperti yang aku lakukan sekarang. Hingga hari kita bertemu akan segera tiba, yang aku tak tahu apakah kesempatannya ada di dunia atau kelak di surgaNya.

Atau apakah mungkin dia adalah salah satu kamu yang sedang membaca? Hemmm…. Hanya Allah yang tahu. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar