Writing Of Pipit

Jumat, 27 Desember 2013

Meminta kepada yang Maha pemberi..





Malam ini pipit ingin membahas  tentang “meminta”.  Iya, kita sebagai manusia sering banget kan yang namanya meminta. Entah itu sama orang tua, sama saudara, sama temen, sama bos, atau sama siapapun yang bisa kita jadikan sumber pemberi bagi kita. Bahkan kita terlalu menggantungkan harapan kepada “mereka” sampai-sampai kita suka lupa hakikatnya bahwa hanya satu yang wajib menjadi tempat kita meminta, yaitu Allah swt.

Apalagi kalau pipit mengingat isi ceramah dari tabligh akbar ustad Yusuf Mansyur waktu mengisi acara milad Syariah di Kampus IAIN Raden Fatah Palembang beberapa waktu lalu, yang benar-benar mengingatkan saya dan juga semua yang hadir disana untuk kembali menuhankan Allah dalam segala kehidupan manusia ini.

Saya ga akan bahas semua yang beliau sampaikan saat itu disini kok. Pipit  hanya akan mengutip beberapa hal saja yang mungkin bisa jadi sebuah nasihat atau pengingat untuk kita-kita ini yang rasanya Ilmunya masih jauh, apalagi untuk mengamalkan semua titah Tuhan di bumiNya dan lebih sering lupanya disbanding mengingat wasiah yang baik-baik itu. Hehe

Back to topic! Sadar atau enggak, saya sering mikir kalau benar juga apa yang dibahas saat itu yang mengatakan bahwa manusia itu sudah keterlaluan mempunyai Tuhan selain Allah dalam kehidupan ini. Apalagi dengan melihat situasi yang terjadi saat ini, dengan begitu banyak persoalan ekonomi maupun sosial membuat manusia kian jauh dari kebutuhan batinnya karena terlalu sibuk mencari untuk dunianya. Betul?

Hari gini gitu loh, kebutuhan banyak, tuntutan ini itu makin menjadi, semuanya harus dicapai dengan sebuah benda yang namanya “uang”. Hal itulah yang menjadi awal dari segala ketidak beresan perilaku kita yang efeknya kadang bikin kita lupa bahwa apa yang kita cari saat ini akan kita tinggalkan semua, dan kita bahkan lupa meminta Allah saja yang mencukupkan kebutuhan kita. Entah lupa atau kita yang memang gak mau, ya tentunya diri kita sendiri yang lebih tahu jawabannya ya. (baca= introspeksi) ;)

Saya juga kadang gitu kok. Apalagi mengingat status saya yang belum kerja, masih seorang mahasiswa yang memasuki tingkat akhir dengan kebutuhan banyak banget yang you know lah~ dan satu-satunya sumber keuangan saya hanya ORANG TUA. Bukan hal yang pipit mau loh dalam keadaan seperti ini, istilah halus masih tanggungan orang tua itu sebetulnya bermakna “saya harusnya sudah bisa mandiri dengan umur yang cukup dewasa dan sudah sepatutnya tidak lagi menjadi beban orang tua”. Sungguh cetak hitam itu selalu menjadi warning di kepala pipit sejak saya lulus SMA sampai sudah menginjak semester lima yang akan segera berakhir ini.

Tapi ya seperti ustad bilang tadi, bukan hanya dari isi ceramah beliau  juga sih sebenarnya. Banyak hal-hal yang saya pahami entah itu nasihat dosen, bacaan-bacaan yang bagus untuk penanaman nilai-nilai kesyukuran, lingkungan disekeliling, cerita hidup orang lain, dan banyak hal lainnya yang menjadi guru dalam hidup pipit yang makin menguatkan saya untuk terus bertahan dan selalu mensyukuri semuanya, dan terpenting menempatkan Alllah di ururtan teristimewa untuk segala yang saya bisa hirup dan pipit nikmati hingga sekarang.

Seperti saat menikmati minggu tenang sebelum UAS ini, pipit menghabiskan waktu untuk pulang ke rumah di Prabumulih. Disini banyak pula hal-hal yang bikin pipit makin berat beban moral untuk rasanya secepatnya mengakhiri fase kuliah ini agar pindah ke step hidup berikutnya agar segera berganti tugas dengan Ayah-ibu untuk menjadi sumber penghidupan kami.

Perbincangan mereka, usaha-usaha mereka untuk mencukupkan kebutuhan anak-anaknya yang lain (selain saya dan adek gita -yang harusnya bukan lagi tanggung jawab orang ayah dan ibu = baca saudara saya yang sudah menikah maupun sudah bekerja), saya hanya bisa menjadi saksi dari getirnya perjuangan mereka untuk kebahagiaan kami. :’)

Lalu apa yang bisa pipit lakukan saat ini selain memeluk mereka dengan doa-doa dan harapan baik saya? Saya selalu meminta Allah sebagai Pemilik Apa yang di Langit dan Bumi ini untuk selalu menjaga mereka dan melapangkan hati Ayah dan Ibu. Diberikan kesehatan yang baik, dilancarkan rezekinya entah yang kecil maupun besar, menggantikan bulir-bulir keringat yang mereka teteskan dari dulu sampai saat ini dengan kebahagiaan lain yang akan aku berikan nanti InsyaAllah. Ahh, sungguh tak terbatas apa yang pipit Munajahkan kepada Allah..

Mungkin usaha saya yang udah dilakuin belum berdampak sekarang, dari yang nyoba usaha jualan pulsalah, atau cari kerja parttime buat sedikit mengurangi beban kedua orang tua, rasanya masih nihil. Mungkin Allah belum menunjukkan jalan itu sekarang. Tapi ingat kembali reminder dari ust.YM bahwa bukan cari kerja atau usaha lain yang diutamakan, tapi juga dzikir dan sujud kita banyakin terus. Dhuhanya perbanyak lagi, Ngajinya dipupuk terus dan sedeqah untuk mengingat masih banyak yang jauh kurang beruntung dibanding kita agar kita bisa menjadi hamba yang lebih berarti isi kehidupannya.

Dan penutup posting kali ini, pipit pengen minta lagi sama Allah, Yang Maha Pemurah atas segala permintaan hamba-hambaNya.
Tolong beri hidayah untuk kami semua agar menjadi manusia yang selalu menuju pada jalanMu, panjangkan umur kami semua agar bisa beribadah lebih banyak kepadaMu Ya Illahi, dan cukupkanlah segala kebutuhan kami dan jaga hati kami agar selalu senantiasa menjadi makhluk yang pandai bersyukur.. Aamin Allohuma Amin.. :)

Prabumulih, 27 Desember 2013.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar