Hai
Calon Masa Depanku!!!
Jika
kau bertanya padaku apa yang kurasakan saat ini?. Aku tak tahu. Tak berani
menyimpulkan, tak berani memastikan. Takut salah dan hanya meneguk kecewa jika
kenyataannya nanti semua bisa berubah diluar prediksiku, karena sepucuk perasaan
ini hanya sebuah titipan. Sang Pengaturlah yang berhak membolak-baliknya,
menentukan jalan ceritaNya.
Entahlah.
Mungkin ini egois namanya. Tapi satu hal yang harus disadari, akan banyak
jutaan detik yang akan dilewati kedepannya dengan ragam ujian dan tantangan
yang akan ku taklukan untuk mengejar cita-citaku, impiku.
Misi hidupku masih banyak yang harus ku tuntaskan dan ku tunaikan, sebut saja
aku ambisius ~terserah saja.
Mungkin
juga di waktu ke depan Tuhan akan menghadirkan sosok-sosok lain di tiap hariku tapi bukan
dirimu, Who knows. Tak ada yang tahu
kan. Jika memang segala yang dirasa hati ini benar, maka semua “yang akan dan sudah” kita lewati
anggaplah sebagai pengujinya apakah memang itu semu atau benar-benar hakiki.
Sini, mari kita berkompromi dulu
dengan kehidupan kita sekarang. Segala sesuatu itu perlu diniatkan, disiapkan,
Agama kita begitu banyak memberi pedoman hidup yang baik untuk segala umatnya.
Dan ayo, kita wajib menggunakannya untuk kebaikan kehidupan kita semua.
Landaskan ajaranNya yang benar didalam hati dan implementasikan sebisa mungkin
dalam tiap lembaran hidup kita.
Heiii.. lihatlah dunia. Usia kita
ini masih amat produktif untuk bekarya dan mewujudkan segala impian yang pernah
kita tulis atau ucap ketika kita kecil dulu. Selagi ada waktu, mari kita
selesaikan semuanya. Lakukan secara total, agar hasil yang didapatpun maksimal.
Bersibuklah dahulu dengan “mimpi-mimpi” yang pernah kau ciptakan. Lalu setelah
semua selesai kau raih meski ada yang berhasil atau tidak-yang memang begitulah
seni kehidupan, maka bergegaslah sentuh klimaks mimpimu yang lain, yang sejati,
yang menjadi muara dari hidupmu dan menghabiskan sisa waktu untuk terus
bermanfaat dan melewati hari bersama, dengannya.
Aku makin menyadari bahwa hidup ini
adalah proses mencari dan membekali diri. Kamu tahu, ada satu lagi mimpi
klimaks-ku seperti orang kebanyakan, sebuah sunnah rasul dan merupakan ibadah
terindah yang Allah perintahkan dan khususkan untuk manusia di bumi ini. Ya,
salah satu mimpi akhirku setelah sekian banyak cita-cita lain : Berkeluarga.
Tidak salah bukan? Bahkan itu sangat
manusiawi dan kodrat bagi setiap manusia. Tapi, tentu banyak proses dan
beberapa faktor pendukung lain untuk melakukannya yang memang tidak sembarangan.
Aku ingin menikah menjadi tujuan melengkapi agama, sekali lagi menjalankan
sunnah Rasul dan menjaga pandangan, semoga alasanmu pun sama denganku. Harapan besarku
bisa memperoleh suami yang menjadikanku sebagai bagian dari amanah yang akan ia
pikul, menyayangi, memberikan nafkah, memberi pendidikan, bertanggungjawab
untuk meluruskan tiap keteledoran, saling mengingatkan di kala kesusahan,
berjalan bersama menuju ridhaNya.
Lelaki yang mengimamiku di
shalat-shalatku dengan lembut suaranya, menenteramkan hatiku dengan tilawahnya.
Yang saat shalat telah selesai dan salam mengakhiri, kala itu pula kupandangi
punggungnya yang tak henti bekerja untuk menghidupiku, mengemban amanah menjaga
keluarga ini. Punggung yang tak pernah merasa lelah dan mengambil rehat kecuali
jika ia sakit karena tahu tanggung jawabnya terhadapku. Dan setiap waktu, ahh
semakin ku menyayanginya.
Lelaki
yang tak perlulah memiliki Alphard
tiga, apartemen tersebar di berbagai kota, atau nama besar keluarga di
belakangnya. Cukup hanya ia yang dengan tulus senyum bekerja tanpa keluh, tanpa
mesti kusuruh, yang bersedia turut membantu mengusap peluh di keningku ketika
ku lelah mengurus rumah dan keluarga kami tercinta, dan atas semua itu ia hanya
akan merasa kian mencintaiku, wanitanya, atas segala ujian yang telah dan kan
kita lewati begitu keras dan susahnya. Menjadikan pernikahan dan rumah tangga
yang kita bangun sebagai tempat cinta yang ditanam di dunia untuk kita tuai
bahagia di surga sebenarnya. Itu aku dan kamu: jodohku nanti.
Aku
selalu merangkai dan mengimpikannya dalam doa-doa syahdu di setiap sujudku
meski kadang terlintas banyak ragu, akankah seindah itu?
Lalu
jika ada yang bertanya pula padaku siapakah sosok dalam bayangan yang ku cipta
itu? Lagi-lagi aku tak tahu dan hanya mampu menggeleng, semua masih abu-abu, buram,
blur. Maka itu tak perlu banyak kata, hanya ingin bila telah sampai waktunya,
kutunggu ijabnya saja.
Tapi
kini, entah di mana kamu, siapa kamu dan apa yang kamu lakukan. Aku hanya bisa
menanti dan berdoa. Kau masih tak terteka dalam jarak dan waktu, mungkin telah
atau sedang belajar memperbaiki diri seperti yang aku lakukan sekarang. Hingga
hari kita bertemu akan segera tiba, yang aku tak tahu apakah kesempatannya ada
di dunia atau kelak di surgaNya.
Atau
apakah mungkin dia adalah salah satu kamu yang sedang membaca? Hemmm….
Hanya Allah yang tahu. :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar